Selasa, 24 Februari 2015

LAKI-LAKI PEMIMPIN BAGI KAUM WANITA



Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka” (QS.Annisaa:34)





Assalamu’alaikum Wr.wb. 

Saudaraku seiman, Keluarga adalah tatanan organisasi terkecil ditengah-tengah masyarakat. Di dalam Islam kepemimpinan keluarga ada pada suami, suami menjadi pengendali nakhoda rumah tangga. Baik & buruknya kondisi rumah tangga tergantung kpd kepemimpinan suami. Suami bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan nafkah keluarga, mendidik & membimbing anak beserta isterinya. Al-mam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan ayat ini, makna pemimpin bagi kaum perempuan adalah penegak urusan merek dengan mewajibkan bagi merek untuk menunaikan hak2 Allah dengan melaksanakan kewajiban2 yang Allah tetapkan & melarang mereka dari perbuatan2 yg merusak/ maksiat, serta mendidik mereka untuk meluruskan kebengkokan mereka. (Ref : Tafsir Ibnu Katsir, 1/653).

Tidak ada kepemimpinan tanpa ada ketaatan. Ketaatan seorang isteri terhadap suami adalah bersifat mutlak dalam rangka mentaati Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepad orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.(HR.Tirmidzi)

Hilangnya ketaatan isteri terhadap suami adalah pangkal dari hilangnya kepemimpinan suami di dalam rumah tangga. Realitas kehidupan rumah tangga kaum muslimin hari ini tidak sedikit suami yang dikendalikan oleh isteri karena ia memiliki status sosial yang lebih tinggi. Ada suami yang membimbing isterinya dengan tuntunan yang benar untuk menutup aurat ketika keluar rumah, menjaga kehormatannya, menjaga silaturahim kepada mertua & keluarga suaminya tapi sering membantah serta membangkang terhadap nasehat suaminya. Bila hal ini terjadi suami dapat bersabar & terus berusaha membimbingnya agar isterinya dapat menjadi isteri soleha. Namun jika kondisinya tidak berubah maka suami dapat mempertimbangkan diri untuk menthalaq isterinya.

Secara alamiah tidak ada seorangpun yang menginginkan gagal dalam membina rumah tangganya tapi terkadang kehidupan ini penuh jalan terjal lagi licin. Kegagalan berumah tangga tidak hanya dialami oleh manusia biasa tapi juga dialami oleh para nabi Allah yang mulia. Sebagaimana Al-Quran menjelaskan kisah isteri Nabi Luth AS & kisah Nabi Nuh AS, dimana Isteri & anaknya tidak mau beriman kepada Allah & Nabi-Nya.

Belum terlambat bagi kita untuk terus memperbaiki diri, membimbing anak & isteri menuju kehidupan yang lebih baik yang didasari nilai-nilai iman dan Islam. Semoga Allah SWT menjaga keutuhan keluarga kaum muslimin. Aamiin ya rabb. Wallahu a’lam.


By : Suryadi Anwar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar